1. Berapa kapasitas mesin yang harus dibeli.
2. Berapa jumlah tenaga kerja yang harus disiapkan.
3. Bagaimana perubahan-perubahan struktur biaya terhadap kuantitas produksi yang menguntungkan.
Aplikasi analisis Break Even Point (BEP) pada permasalahan produksi biasanya digunakan untuk menentukan tingkat produksi yang bisa mengakhibatkan perusahaan berada pada posisi impas. Untuk mendapatkan posisi impas maka harus dicari fungsi biaya maupun pendapatnya, dimana total biaya sama dengan total pendapatan.
Ada 3 komponen biaya yang menyusun biaya total :
1. Biaya-biaya tetap (Fixed Cost) yang meliputi biaya investasi, biaya pembangunan pabrik, biaya pembelian mesin dan peralatan, dan sebagainya.
2. Biaya-biaya variabel (Variabel Cost) yang meliputi biaya pembuatan produk mulai dari bahan baku, bahan tambahan dan sebagainya.
3. Biaya-biaya over head (Over Head Cost) yang meliputi biaya listrik, gaji bulanan dan sebagainya.
Kondisi impas dapat dituliskan dengan persamaan berikut :
TC = (FC + OC) + (VC x X)
TR = p x X
karena
TR = TC atau p x X = (FC + OC) + (VC x X)
Maka
Dimana :
TC = Total biaya pembuatan produk X
FC = Biaya-biaya tetap pembuatan produk X
VC = Biaya-biaya variabel pembuatan produk X
OC = Biaya-biaya over head pembuatan produk X
TR = Total pendapatan dari penjualan produk X
p = Harga jual produk X
X = Volume produksi
Unit usaha akan mendapat keuntungan apabila dapat berproduksi diatas titik X (di atas titik impas). Hal ini dapat dilihat pada gambar berikut :
PT Sawdust Rakyan Bhumi adalah perusahaan pengumpul dan pengeringan serbuk gergaji yang digunakan sebagai biomass energy untuk pembangkit listrik. Perusahaan ini memiliki dua buah unit bangunan pengering tenaga surya dengan investasi sebesar Rp. 50 juta/unit. Perusahaan ini membeli serbuk gergaji dari industri penggergajian kayu dengan harga Rp. 150.000/Ton. Biaya overhead yang berupa gaji karyawan 1 tahun adalah Rp 20 juta. Harga jual adalah 250.000/Ton. Produksi 1 tahun adalah 6000 ton. Lalu BEP dapat dicapai pada volume produksi berapa?
Investasi (Fixed Cost)
| Investasi | Biaya (Rp) | Jumlah (unit) | Total (Rp) |
| Bangunan Pengering | 50,000,000.00 | 2 | 100,000,000.00 |
Variabel Cost
| Biaya pembuatan 1 Ton Sawdust Kering | ||
| No | Bahan Baku | Biaya /Ton (Rp/Ton) |
| 1 | Serbuk Gergaji | 150,000 |
| Total | 150,000 | |
Over Head Cost
| No | Keterangan | Jumlah (Rp) |
| 1 | Gaji Karyawan | 20,000,000.00 |
Penyelesaian :
Analisis :
Jadi perusahaan ini mulai mendapatkan keuntungan setelah volume produksi serbuk gergaji kering mencapai 1.200 Ton. Perusahaan ini dikatakan layak karena titik impas lebih rendah daripada produksi tahunan yaitu 6.000 Ton. Artinya dalam produksi selama satu tahun, unit produksi ini sudah mendapatkan banyak keuntungan.
Sumber :
Nasution, AH, 2006, Manajemen Industri, Andi, Yogyakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar