Rabu, 20 Agustus 2008

Bio-Briket Salah Satu Solusi Cerdas Untuk Krisis Energi


Krisis energi di negara kita Indonesia kian menjadi. Mulai dari naiknya harga BBM, listrik yang byaaar-peet terus, hingga harga sembako yang melambung juga karena terkena imbas krisis energi ini. Hal yang seperti ini terkadang membuat orang frustasi.

Akan tetapi, jika kekreatifitasan tidak mati, solusi itu pasti ada. Jika kita lihat disekitar kita ada sampah-sampah organik, sampah-sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai energi yang terbarukan. Ya, solusi itu bernama “Bio-Briket”. Bio-Briket itu sendiri adalah sampah pertanian (biomassa) seperti batang padi, batang jagung, kulit jagung, tongkol jagung, ampas tebu, daun tebu, serbuk gergaji, dsb yang diarangkan lalu dipress hingga menjadi blok yang padat. Blok Bio-Briket ada dua macam baik yang padat penuh maupun yang berlubang ditengah. Pembuatan Bio-Briket yang padat penuh dibuat dengan menggunakan piston press, sedangkan Bio-Briket yang berlubang tengah dibuat dengan menggunakan screw press [1].

Cara membuat Bio-Briket adalah sebagai berikut :






















Bio-Briket ini dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak, bahan bakar industri (boiler), hingga dapat juga digunakan untuk membangkitkan listrik [3]. Industri pembuatan Bio-Briket ini turut mengurangi limbah biomassa (terutama limbah pertanian), mengurangi emisi karbon, mengurangi pengangguran, sampai menambah pendapatan bagi pembuatnya. Contoh negara pembuat dan pengguna Bio-Briket terbesar adalah India. Di India, Bio-Briket biasanya dibuat dari limbah pertanian seperti daun tebu, ampas tebu, dan batang jagung. Dengan adanya industri tersebut, angka pengangguran terutama di pedesan berkurang. Bagaimana soal pemasarannya?. Pasar dari Bio-Briket adalah UKM. Beberapa UKM (Usaha Kecil Menengah) di India banyak yang beralih bahan bakar dari minyak bakar ke Bio-Briket. Sebagai contoh UKM-UKM di Maharashtra, India yang menggunakan Bio-Briket sebagai bahan bakar. Ternyata, penggunaan Bio-Briket tersebut memiliki beberapa manfaat, selain emisi karbon berkurang, penggunaan Bio-Briket tersebut juga menghemat biaya sekitar 30-40%. Bahkan asosiasi UKM-UKM (koperasi) di Maharashtra bersama-sama mengajukan proposal pengajuan insentif pengurangan karbon. Hal ini dikarenakan penggunaan bahan bakar beremisi karbon rendah (Bio-Briket) [4]. Lalu bagaimana Indonesia?. Asal ada kreatifitas, keinginan mencoba, mengubah (beralih) gaya hidup, dan berani menyatakan ketidaktergantungan terhadap sesuatu, kita akan menjadi lebih baik.

[1] Anonim, 2007, All About Charcoal. virtualweberbullet.com.

[2] Indro Prastowo, 2007, Laporan Pembuatan Bio-Briket Tempurung Kelapa, Tim KKN UGM unit 64, Yogyakarta.

[3] Richard Stanley, Holey Briquette Gassifier Stove Development, Kobus Venter 14 August 2003 on BioEnergy Lists.

[4] Wikipedia, 2008, Briquette, en.wikipedia.org diakses tanggal 18 agustus 2008.



3 komentar:

Anonim mengatakan...

lebih aman daripada batubara ya?

Indro Prastowo mengatakan...

Terima kasih komentarnya. Yang jelas lebih aman daripada batubara. Batubara emisinya sangat tinggi. Membakar 1 ton batu bara akan menghasilkan sekitar 2,5 ton karbon dioksida. Belum lagi emisi sulfurnya.Jika menggunakan bio-briket emisi sekitar 20 ppm/Kg bio-briket . Yang jelas jika dibandingkan dengan arang, bio-briket lebih tidak berasap, dan tahan lama. Jika 1 Kg arang habis selama 1 jam, maka 1 Kg bio-briket habis selama 4 jam.

Anonim mengatakan...

mas, sumber nya dari mana bisa jawab seperti itu
?